Art Criticism Of The Work Titled Munarai By Wahyu Putra Pratama
Kritik seni karya Wahyu putra pratama yang berjudul Munarai
DOI:
https://doi.org/10.62330/artsedes.v3i1.629Keywords:
kritik seni, seni budayaAbstract
Penelitian ini bertujuan mengkaji karya kriya logam Munarai karya Wahyu Putra Pratama melalui pendekatan kritik seni untuk mengungkap aspek visual, makna simbolik, serta posisi karya dalam perkembangan kriya logam kontemporer. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kritik seni Edmund Feldman yang meliputi tahapan deskripsi, analisis formal, interpretasi, dan evaluasi. Data diperoleh melalui pengamatan visual karya, studi pustaka, serta analisis kontekstual terhadap latar budaya yang melatarbelakangi penciptaan karya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa karya Munarai merupakan karya kriya logam tiga dimensi berbentuk lampu hias yang mengangkat nilai budaya masyarakat Kerinci melalui visualisasi Tari Rangguk, Tari Iyo-Iyo, dan Tari Sembah Anak Batino. Analisis formal memperlihatkan pengolahan unsur garis, bentuk, tekstur, cahaya, serta komposisi tripartit yang membangun keseimbangan visual dinamis. Interpretasi semiotik menggunakan teori Charles Sanders Peirce dan Roland Barthes menunjukkan bahwa karya berfungsi sebagai sistem tanda yang memuat makna ikon, indeks, dan simbol terkait ritual Kenduri Sko serta nilai spiritual masyarakat Kerinci. Evaluasi komparatif dengan karya kriya logam lain menegaskan bahwa Munarai memiliki kekuatan pada narasi budaya, simbolisme sosial, dan integrasi fungsi estetis dengan nilai tradisi lokal.
Temuan penelitian menegaskan bahwa kriya logam tidak hanya berfungsi sebagai objek dekoratif, tetapi juga sebagai medium representasi identitas budaya dan artikulasi nilai sosial melalui bahasa visual kontemporer.




ARTSEDES: Journal of Arts Education and Design licensed under a